Selasa, 10 Januari 2012

Demam Esemka : Sebuah Inspirasi bagi Pengembangan Industri di Aceh

Memasuki tahun 2012, khalayak ramai disuguhkan sebuah berita tentang keberhasilan anak negeri membuat kendaraan roda empat yang diberi nama "Esemka". Walikota Solo Joko Widodo bahkan menggunakan mobil produksi cah solo ini sebagai mobil dinasnya. Dari bentuk fisiknya, mobil ini tidak kalah dengan mobil-mobil asal Jepang lainnya. Sekilas mobil "Esemka" ini mirip dengan Toyota Rush ataupun Daihatsu Terios. Juga diberitakan merek Esemka ini akan memproduksi varian lainnya .

Kehebohan kabar ini bukan pada spesifikasi atau kecanggihan dari pada kendaraan ini. Namun lebih pada produsennya. Esemka merupakan karya dari anak-anak yang menuntut ilmu pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Surakarta. Ini bagaikan menampar industri otomotif nasional. Ternyata tak seperti dibayangkan perlu teknologi yg canggih dan pabrik super modern yang serba otomatis untuk menghasilkan sebuah mobil. ABG pun bisa. 

Berbagai komentar dan apresiasi pun mengalir. Dari keraguan atas keandalan sampai optimisme kebangkitan industri mobil nasional pun diungkapkan oleh banyak pihak. Presiden SBY sendiri secara langsung mengapresiasi prestasi ini. Memang bukan hal mudah untuk memproduksi mobil nasional seperti Esemka secara massal dan menguntungkan. Banyak hal yang mendasar harus dibenahi mulai dari jaminan kualitas hingga kebijakan industri.

Pelajaran Bagi Aceh

Bagi saya prestasi anak SMK 2 Surakarta (atau lebih sering disebut Solo) ini membukakan mata bahwa anak-anak baru gede yang masih berseragam putih abu-abu mempunyai potensi untuk melakukan hal-hal yang inovatif. SMK selama ini dianggap sebagai sekolah menengah kelas dua yang hanya dimasuki oleh siswa-siswa minim prestasi dan nakal. Asumsi ini memberi pengaruh pada animo orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah keterampilan ini. Ditambah dengan gambaran pekerjaan alumninya sebagai montir di bengkel-bengkel honda dengan pakaian berselemak oli. 

Aceh saat ini mempunyai beberapa SMK dan SMK termegah yang dibangun adalah kompleks SMK yang berada di Lhoong Raya, tepat di depan Stadion Sepak Bola. Kompleks yang terdiri  dari gabungan 3 SMK ini dibangun dengan dana bantuan Pemerintah Jerman. Aspirasi dari pembangunan ini berasal dari pengalaman Jerman pasca Perang Dunia kedua dimana salah satu faktor kebangkitan Jerman saat itu ditopang oleh ketersediaan tenaga terampil untuk membangun kembali industrinya yang hancur lebur oleh perang. Hasilnya terbukti bahwa Jerman sekarang menjadi negara dengan industri teknologi tinggi paling kompetitif di dunia saat ini meskipun krisis ekonomi eropa tengah melanda. Hal ini bisa dilihat dari minimnya tingkat outsourcing atau relokasi industri dari Jerman ke negara-negara berkembang yang mempunyai keunggulan komparatif.

Keberadaan SMK ini juga sangat relevan dengan keinginan Pemerintah Aceh untuk mentranformasikan sektor ekonomi Aceh dari basis pertanian ke industri. Wakil Gubernur Muhammad Nazar kerapkali meng-advokasi bahwa transformasi ini seharusnya diikuti oleh komposisi lulusan antara sekolah menenah umum dan kejuruan dapat lebih berimbang untuk menjamin pasokan sumber daya manusia bagi industri. Memang tidak mudah untuk membangkitkan industri di Aceh. Ia membutuhkan perbaikan dan penyesuaian sistemik yang melibatkan mulai dari pendidikan, kebijakan hingga kondisi pasar.  

Dari segi fasilitas pendidikan, banyak peralatan-peralatan yang canggih disediakan ketika masa rehabilitasi dan rekonstruksi namun beberapa informasi menyatakan bahwa fasilitas canggih tersebut tidak optimal termanfaatkan. Salah satu kendalanya adalah ketersediaan guru yang terampil. Ada anekdot bahwa di SMK jurusan permesinan banyak terdapat guru sejarah mesin. Alih-alih mengajar praktek menggunakan mesin secara benar, sang guru lebih banyak menceritakan asal-usul mesin tersebut. Upgrade atau peningkatan kualitas guru teknik perlu di benahi. Program beasiswa Aceh juga seharusnya memprioritaskan peningkatan SDM dibidang ini. 

Selain itu animo untuk masuk ke SMK juga perlu ditingkatkan. Kesan kumuh dan tidak elit alumni SMK perlu ditepis. Tidak bisa saja dengan iklan SMK yang sudah dilakukan diberbagai media namun ketersediaan lapangan kerja dan produk-produk inovasi perlu dirangsang sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung dan ini merupakan iklan yang paling efektif. Pemerintah dapat melakukan rangsangan-rangsangan ini dengan melakukan kompetisi-kompetisi kreatif yang sesuai dengan trend industri saat ini. Selain itu keterpaduan antara pasar tenaga kerja yang dipengaruhi oleh kebijakan (policy driven labor market) dan pendidikan juga perlu ditingkatkan sehingga terjadi link and match antara pendidikan dan lapangan kerja. 

Selain itu pelibatan industri juga sangat krusial. Dalam kasus Mobil Esemka, kerjasama siswa SMK 2 Surakarta dengan salah satu pengusaha otomotif lokal (Kiat Motor) adalah tulang punggung keberhasilan ini. Bahkan tanpa campur tangan pemerintah. Namun logika sektor swasta bahwa ia hanya tertarik apabila kerjasama tersebut menghasilkan keuntungan. Karena itu pemerintah perlu mengarahkan pendidikan dan produk inovatif yang dihasilkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan pasar. Ketika pendidikan dan pasar tenaga kerja telah terhubungkan secara baik maka pemerintah tak perlu pusing lagi memikirkan cara memberi kerja kepada masyarakat, bahkan menjadi kestabilan pemerintahan itu sendiri baik secara politik dan finansial. 

Sudah saatnya kita berbenah. SMK dan Politeknik bahkan Universitas serta sektor swasta harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan pengembangan industri Aceh. Bersama kita bisa.


Kamis, 05 Januari 2012

Penembak yang Harus Ditembak.

Trenyuh membaca beberapa nyawa melayang secara tidak haq di Nanggroe Aceh Darussalam. Korban penembakan serasa menjadi saudara sendiri walaupun sebenarnya tidak saling mengenal. Mungkin ini bagian perasaan yang menyakini bahwa terbunuhnya seorang yang tak bersalah bagaikan terbunuhnya semua manusia di dunia. Itulah tuntunan Al Qu'ran dalam Surat Al Maidah Ayat 32. Saya yakin seluruh rakyat yang berdiam di Aceh mempunyai perasaan yang sama. Kesan ini terlihat jelas dari kutukan-kutukan atas perbuatan nista tersebut di berbagai media massa hingga media jaringan sosial.

Tak perlu pusing mencari dan menduga apa alasan yang melandasi penembakan busuk ini. Prioritas utama adalah hentikan kedhaliman ini. Tangkap pelaku dan bongkar jaringan serta mastermind-nya. Ayo Polri, kerahkan segala kemampuan untuk menghentikan kebiadaban ini. Densus 88 yang secara cepat bisa mengungkap kerja rapi jaringan pelaku teror, insya Allah bisa mengungkap.

Di tanah endatu yang karamah ini dan kita bersama selalu berusaha untuk mengembalikan ke-karamah-an tersebut, Haram hukumnya darah tertumpah secara tidak haq

Jalasveva (nehi) Jaya Mahe - Di Lautan Kita (tidak) Jaya

Senang bercampur sedih membaca berita Serambi Indonesia ( 4 Januari 2012). Kabar mengabarkan keberhasilan penyelamatan tujuh nelayan asal Sumatera Utara yang terkatung-katung selama 9 jam akibat tertabrak sebuah kapal tanker. Hingga kini kapal tanker melenggang kangkung tanpa diketahui identitasnya. Tak tahu siapa yang bertanggung jawab atas kerugian akibat tenggelamnya kapal ikan  KM Rezeki Makmur. 

Saat selesai membaca berita, memori saya langsung menembus waktu kembali  pada dini hari 17 Agustus 2007. Sekitar pukul 04.00 Tidur nyenyak terhenyak ditengah raungan helicopter yang lalu lalang di udara kota Brest, sebuah kota kecil di bagian barat Perancis. Seketika pikiran saya menduga bahwa ada latihan militer mengingat Brest adalah pusat armada angkatan laut Perancis untuk kawasan Atlantik. 

Keesokan paginya,  saya mendengar di radio bahwa ada kecelakaan laut yang melibatkan sebuah kapal nelayan bernama Le Sokalique dan Kapal General Cargo, Ocean Jasper di lepas pantai Brest, dekat Pulau Ouessant. Sebelum tenggelam kapten dari kapal nelayan sempat mengirimkan pesan SOS dan diterima oleh petugas pengaman pantai. Namun sayangnya sang kapten ditemukan tewas  sedangkan awak lainnya dapat diselamatkan. Ternyata raungan helicopter semalam berasal dari helicopter Coast Guard Perancis yang membawa korban ke Rumah Sakit Rujukan Morvan yang memang tidak jauh dari Cite Universitaire (semacam asrama mahasiswa) dimana saya tinggal. 

Lalu dini hari 18 Agustus 2007 sekitar jam 03.30, Kapal Ocean Jasper sang tersangka tiba di Pelabuhan Brest dikawal kapal Perang Angkatan Laut Prancis. Artinya kurang lebih 24 jam, Pelaku tabrakan sudah ditangkap dan memasuki proses pengadilan untuk mempertanggung-jawabkan kelalaiannya.  

Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di perairan Indonesia. Sebelum kasus ini banyak kasus serupa yang berakhir dengan kerugian di pihak nelayan kecil. Mengapa bisa ada perbedaan?. Salah satunya mungkin sistem transportasi laut yang lebih moderen dan canggih di Perancis. Selain mewajibkan peralatan komunikasi di semua kapal nelayan. Pemerintah Perancis juga mempunyai sistem pengawasan dan penidentifikasian pergerakan kapal-kapal yang melewati perairannya seperti VMS (Vessel Monitoring System) dan AIS (Automatic Identification System). Dari AIS-lah otoritas maritim Perancis bisa merekonstruksi itenerari kapal-kapal yang melewati kawasan kecelakaan tersebut dan menduga serta menangkap Ocean Jasper yang memang di lambungnya terlihat penyok tanda benturan. 

Pemerintah Indonesia melalui Kementeria Kelautan dan Perikanan juga sudah memulai sistem monitoring kapal ikan berbasis VMS. Selain untuk mengontrol posisi kapal ikan di lautan VMS juga dapat digunakan untuk mengurangi pencurian ikan oleh kapal asing. Berbeda dengan VMS yang berbasis satelit. AIS menggunakan gelombang radio menghubungkan antara kapal dari AIS base station di kawasan pantai. 

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menangkap kapal pelanggar tersebut mengingat Indonesia  mempunyai Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) di Sabang, yang sangat dekat dengan lokasi kejadian. Mungkin belum memadai sistem keselamatan pelayaran di Indonesia menjadi sebab utama dari lenggang kangkungnya para kriminal laut. 

Namun lebih dari itu, political sympathy -belum berbicara political will- pun berbeda. Untuk kasus kecelakaan Le Sokalique, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang saat itu baru terpilih sempat-sempatnya menjenguk dan memberikan ucapan bela sungkawa secara langsung kepada keluarga kapten yang sedang berduka. Sesuatu yang mungkin  jarang di Indonesia.

Meskipun mengaku nenek moyang ku seorang pelaut, ternyata Indonesia masih Jalasveva (nehi) Jaya Mahe  -Di Lautan Kita (tidak) Jaya.     

Rabu, 04 Januari 2012

Atas Nama Landmark Kota

Kontroversi pembangunan hotel dan mall di seputaran Masjid Raya Baiturrahman (MRB) terus berlanjut. Jika awalnya pro kontra ini lebih saya fahami sebagai pertaruhan antara Kesucian MRB dengan kemungkinan Mall dan Hotel  Best Western menjadi kuda troya (trojan horse) bagi maksiat di depan salah satu mesjid terindah di dunia ini (baca- What!!! Hotel Bule  di depan Mesjid Raya???.. So what???. Namun sekarang sudah bergeser pada ancaman terhadap MRB sebagai landmark kota Banda Aceh. 

Persoalan landmark sangat identik dengan tata ruang. Qanun RTRW Kota Banda Aceh (PASAL 79 AYAT 2-C) menyebutkan bahwa  Strategi pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi : (C)membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan sekitar Mesjid Raya Baiturrahman untuk mempertahankan nilai-nilai historis dan mendorong Mesjid Raya Baiturrahman sebagai landmark Kota.  Teks ini juga  memerlukan klarifikasi lebih lanjut seperti bagaimana disebut melampaui daya dukung dan daya tampung. Apakah pembangunan hotel dan mall termasuk melampaui kedua daya yang disebutkan qanun?

Pemahaman saya terhadap daya tampung dan daya dukung itu terkait dengan besarnya volume atau magnitude relatif terhadap  lingkungan sekitarnya. Ketika hotel atau mall yang dibangun dengan 42 meter dan berlantai 12, saya bisa memahami pendapat bahwa hotel dan mall baru ini akan mempengaruhi dominasi MRB sebagai landmark. Namun apabila dibayangkan luasan tanah bekas Geunta Plaza dengan MRB mungkin tidak sedramatis itu kesimpulan. Menurut saya komprominya adalah bentuk hotel dan mall tersebut disesuaikan konteks dan tidak terkesan angkuh atau “mbong” -istilah Prof Kamal Arif- dihadapan MRB yang kita banggakan.

Ketika kita berbicara tentang kontroversi pembangunan hotel dan mall di sekitar masjid raya seharusnya harus dipahami secara multi dimensi. Tidak melulu masalah potensi maksiat dan tata kota saja. Seorang rekan yang melakukan survey potensi PAD Kota Medan (testimony Alexander Young di Media Social Facebook) mengaku bahwa tingkat hunian atau occupancy rate dari hotel bertipe syariah di sekitar Mesjid Raya Sultan Deli (MRSD)  tersebut rata-rata diatas 90 persen. Mayoritas tamu adalah pelancong yang berasal dari Malaysia dan negara-negara timur tengah. Jelas bahwa MRSD menjadi trip attractor –mengutip istilah Fahmi Abduh Dahlan-.

Pemilihan daerah sekitar MRB sebagai lokasi tak lain karena MRB itu sendiri. Saya rasa tidak ada yang salah dengan hal ini. Bahkan sudah seharusnya masjid menjadi destinasi utama bagi setiap muslim. Apabila ditawarkan lokasi lain belum tentu investor akan tertarik. Kehadiran infrastruktur pariwisata di sekitar MRB tentunya akan  menimbulkan gravitasi yang menarik wisatawan yang telah mendengar keindahan MRB maupun Aceh sebagai provinsi syariah.

Apalagi melihat trend penurunan kunjungan ke Aceh pasca era rehabilitasi dan rekonstruksi. Kenyataan ini bisa digunakan sumber kreativitas baru untuk menarik kembali kunjungan ke Banda Aceh, tentunya dengan cara yang lebih cerdas. Jika pasca tsunami banyak bule yang datang, mulai sekarang turis dari negara muslim yang silaturahmi. Kalau dulu kebanyakan pendatang itu mencari uang di Aceh kemudian mengirim keluar Aceh, kini pendatang membawa uang untuk naik becak, beli kue karah, mencoba kuah beulangong atau kalau beruntung tertarik berinvestasi lebih lanjut. Dari segi social cost, kehadiran turis dari negara muslim jauh lebih minimal dibanding turis barat. Tentunya untuk menarik wisatawan muslim perlu penarik (attractor).

Atas nama landmark kota, tidak bijaksana apabila kita mengabaikan berbagai sisi positif dari ketersediaan hotel (dan mungkin mall) di sekitar masjid raya. Penolakan mentah-mentah akan mengakibatkan citra buruk Aceh sebagai tujuan investasi. Tampaknya kita perlu terus mendalami kearifan endatu yang diabadikan dalam hadih maja, uleu beumatee ranteng bek patah.

Selasa, 03 Januari 2012

Dari Silicon Valley ke Siem Valley


Cukup banyak Allah SWT mendorong kita di dalam Al Qur’an untuk belajar dari bagaimana Allah menciptakan dunia ini dan juga perjalanan hidup sebuah bangsa. Ayat-ayat yang bertemakan perjalanan dan perhatikan tersebut diantaranya terdapat Surat Al Ankabut ayat 19 dan Al An’am ayat 11. Dorongan Allah ini semata-mata diperuntukkan kita untuk bisa mengambil i’tibar atau pelajaran bagaimana seharusnya kita sebagai bangsa  mengambil keputusan dalam hidup ini dan meninggalkan apa-apa yang dapat membuat masa depan kita menjadi suram.  

Salah satu mosaik perjalanan sebuah bangsa yang dapat disaksikan adalah reversal of fortune. Artinya bahwa banyak bangsa mengalami perubahan nasib dalam lintasan waktu hidupnya. Memang sebutan reversal of fortune lebih sering didefinisikan dengan negara makmur di masa lalu  berubah menjadi negara miskin saat ini. Namun bisa juga pembalikan nasib ini berjalan sebaliknya, yaitu dulu  terbelakang sekarang maju.



China, India, Korea Selatan, Singapura dan Taiwan merupakan diantara negara yang menunjukkan trend peningkatan kesejahteraan secara dramatis. Dahulu menjadi daerah jajahan yang dihisap kemakmurannya oleh kolonialisme maupun sistem politik tirani (pemicu utama perubahan nasib dari kaya ke miskin) kini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dunia karena prestasi peningkatan pendapatan rakyatnya  sangat impresif sehingga mendekati kemakmuran negara maju. Fenomena ini dalam ilmu ekonomi disebut konvergensi. Banyak alasan dan konteks yang mendasari keberhasilan negara-negara diatas dalam membalikkan nasib mereka. Namun terdapat salah satu hal identik yang dipilih yaitu penggunaan teknologi sebagai strategi pembangunan ekonominya.


Mark Rogers (2003) dalam buku Knowledge, Technological Catch-Up and Economic Growth menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan/teknologi ditentukan oleh kesenjangan teknologi (technological gap) dan kemampuan penyerapan teknologi (absorptive capability). Semakin pendek rentang senjang teknologi dan semakin tinggi kemampuan penyerapan, maka peran pengetahuan akan pertumbuhan ekonomi akan menjadi eksponensial. Permasalahan kesenjangan teknologi dapat didekati dengan import teknologi. Apalagi karakter dari pengetahuan atau teknologi adalah menyebar (knowledge leaks/spill-over). Perkembangan teknologi informasi makin menfasilitasi terjadinya diseminasi pengetahuan-pengetahuan baru sehingga kesenjangan teknologi lebih mudah. Negara-negara diatas yang dapat mengejar ketertinggalannya juga pada awalnya melakukan hal yang sama dengan “membeli teknologi dari luar” dan menggunakan teknologi untuk percepatan pertumbuhan ekonominya. Hal mahsyur yang mungkin akrab ditelinga kita adalah bangsa-bangsa tersebut melakukan 3 I, yaitu Imitation, Innovation and Invention (meniru, membuat lebih baik, menemukan sesuatu yang baru). Tak heran sekarang merek dagang produk hi-tech seperti Samsung, Acer, HTC, BenQ sudah jamak di berbagai belahan dunia.


Namun, kemampuan 3I ini tidak bisa dilakukan apabila kemampuan penyerapan atau absorptive capability dari sebuah negara atau daerah itu rendah. Absorptive capability dapat diartikan sebagai kemampuan masyarakat untuk mencari, mempelajari dan menggunakan teknologi yang ada (baik didapat dari luar maupun diciptakan di dalam negeri). Pertumbuhan ekonomi – ditandai dengan peningkatan produktifitas – hanya akan berjalan baik apabila faktor pertama (technology gap)  dikurangi dan faktor yang kedua (absorptive capability) ditingkatkan. Sebagai ilustrasi, Pembelian perangkat komputer canggih yang dilengkapi dengan Office Software terbaru akan tidak meningkatkan produktifitas apabila karyawan tidak bisa menguasai software tersebut, meskipun kemampuan mengetik cepat 10 jari dikuasai secara sempurna.    


Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Draft Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Aceh meyebutkan bahwa Aceh Dream pada 2025 adalah menjadi islami maju, damai dan  sejahtera. Terlihat jelas bahwa dalam rencana perjalanannya terdapat 4 pentahapan lima tahunan yang mensyaratkan transformasi struktural. Dimulai dari rehabilitasi, rekonstruksi dan integrasi; revitalisasi industri pertanian, pemantapan sektor manufaktur hingga pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan. Pentahapan pembangunan ini membutuhkan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi agar terjadi transformasi yang mulus dan tepat waktu.
Kebijakan iptek tentunya ditujukan pada peningkatan kemampuan absorpsi teknologi dan pengurangan kesenjangan teknologi baik didalam wilayah Aceh maupun relatif terhadap pihak eksternal. Ada 3 langkah yang dianggap efektif untuk memenuhi tujuan tersebut yaitu penambahan knowledge stock (tingkat penguasaan pengetahuan), komunikasi intensif antar pelaku teknologi/pengetahuan dan pelibatan sektor swasta.


Penambahan knowledge stock utamanya dilakukan melalui pendidikan, pelatihan serta penelitian. Makin bertambahnya stock pengetahuan dalam sebuah masyarakat makin tinggi pula kemampuanya untuk menyerap teknologi baru. Karena itu peran perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya sangat krusial dalam hal ini. Kebijakan Pemerintah Aceh untuk memberikan beasiswa pendidikan kepada putra/putri terbaiknya ke daerah yang mempunyai tingkat pengetahuan lebih tinggi dirasakan langkah yang tepat untuk percepatan pembangunan Aceh. Hal ini dikarenakan beasiswa tersebut tidak hanya akan menambah pengetahuan tetapi juga sebagai mekanisme transfer teknologi yang dapat mengurangi technology gap. Yang perlu diingat bahwa knowledge stock adalah social capability sehingga ia tidak boleh hanya dominasi perguruan tinggi, namun juga setiap level masyarakal. Sekolah kejuruan, balai latihan kerja dan training-training informal lainnya perlu terus dioptimalkan.  Fokus peningkatan penguasaan pengetahuan ini harus sejalan dengan arah pembangunan Aceh jangka panjang.


Hasil dari penambahan knowledge stock adalah ketersediaan sumber daya manusia (human capital) dengan absorptive capacity yang baik. Begitu teknologi baru dikenalkan, maka produktifitas akan langsung secara signifikan bertambah. Namun hal ini tidak cukup karena kebanyakan produk iptek merupakan kombinasi dari beberapa ide-ide dan dibangun atas penemuan-penemuan iptek sebelumnya. Karena itu perlu mekanisme komunikasi  yang menfasilitasi kebocoran iptek sehingga dapat diketahui oleh banyak pihak. Kebocoran ini atau knowledge leak ini selain merangsang sinergi ide guna penciptaan teknologi baru juga makin memantapkan kekayaan pengetahuan yang dipunyai masyarakat. Kebijakan pemerintah perlu diarahkan untuk menyediakan baik infrastruktur komunikasi maupun regulasi terkait yang mendorong terjadinya pertukaran informasi,  mengokohkan modal sosial hingga jaminan hak cipta.


Sering sekali pihak swasta dan asing merupakan pihak pertama yang memperkenalkan teknologi. Investasi foreign/domestic direct investment. Hongkong, Taiwan dan Singapura menggunakan investasi asing sebagai lompatan untuk melejitkan produktifitas dan daya saing negaranya. Kedua negara ini menawarkan tempat investasi yang menarik dengan menyediakan sumber daya manusia, infrastruktur serta regulasi yang handal. Hasilnya bisa lihat sekarang Hongkong dan Singapura menempati peringkat tiga dan empat dalam pencapaian Indeks Inovasi Global yang disusun INSEAD pada tahun 2011 (http://www.globalinnovationindex.org/gii/main/fullreport/index.html ,Taiwan tidak disebut dalam daftar, namun pada indeks inovasi versi The Economist Intelligence Unit negara -atau provinsi ??-  ini menempati peringkat enam).


Kita dapat menyimpulkan bahwa ketiga intervensi diatas (knowledge stock, komunikasi dan sektor swasta) merupakan tiga pilinan yang saling berkorelasi positif dan kemudian saling menguatkan. Karena itu banyak negara maju mengunakan tiga hal tersebut sebagai tulang punggung dari sistem inovasi nasionalnya. Dalam sistem tersebut terdapat juga 3 pihak utama yang secara aktif memainkan perannya yaitu academics (ilmuwan), business (swasta) dan government (pemerintah), sering disingkat sebagai ABG. Nama lain dari keterkaitan 3 pihak ini juga dikenal dengan istilah triple helix.


Konsep triple helix ini sudah disebutkan dalam draft RPJP Aceh 2005-2025 yang sekarang posisinya masih di DPRA menunggu pembahasan untuk menjadi qanun. Tinggal sekarang bagaimana setiap komponen dapat memainkan peran masing-masing dan terus berkomunikasi guna mewujudkan kolaborasi yang apabila sudah terpilin maka akan mempunyai inersia untuk terus saling menguatkan dan melejitkan daya saing daerah dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.


Ketika Aceh dapat menyediakan melting pot atau tempat menyatunya ketiga kekuatan besar ini, Aceh akan mengeluarkan gravitasi besar berupa produktifitas tinggi dan  menarik investasi baik domestik maupun asing. Jika Amerika Serikat mempunyai Silicon Valley – sebuah daerah di sekitar kampus Stanford University dengan luas satu per dua puluh ribu luas USA namun menarik sepertiga total investasi – Aceh bisa jadi punya Siem Valley yang juga berdekatan lokasi dengan dua kampus terkemuka di naggroe yaitu Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Ranniry. Akankan ini terjadi pada tahun 2025?

Sabtu, 31 Desember 2011

Tahun Baru 2012

Tahun 2011 
Berlalu secara tidak terlalu istimewa. Hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, banyak kesempatan yang tersia-siakan. Masih banyak distraksi  mengalihkan dari tujuan utama. Internet masih menyita waktu lebih banyak daripada membaca buku atau menulis. Membaca Al Quran belum sebanding dengan membaca hal-hal yang lain. Berleha-leha lebih mewarnai kehidupan ini dari pada melakukan sesuatu yang produktif. Sungguh kesia-sian masih mendominasi kehidupan ini. Padahal Al Mukminun ayat 3 mengatakan bahwa meninggalkan hal yang percuma adalah salah satu ciri mukmin sebenar. 

Juga seperti tahun-tahun sebelumnya, Allah SWT sangat pemurah dengan rahmat-Nya. Banyak nikmat yang diperoleh padahal usaha yang dilakukan tidak setingkat. Aib pribadi  disimpan padahal banyak kelemahan jiwa yang mengakibatkan cenderung pada maksiat terhadap-Nya. 

Tahun 2012.
Tak ada harapan lain selain lebih baik dari tahun 2011. Bukan jabatan dan juga bukan harta, melainkan waktu dan kesempatan yang diberikan lebih banyak dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Ya Allah berikan petunjuk dan kekuatan agar dapat mengatasi kecenderungan malas dan lemah terhadap godaan serta enggan dalam meraih keridhaan-Mu. Karena di dalam hati yang paling dalam, terpatri keyakinan bahwa keridhaan-Mu adalah segalanya.     
Ya Allah...Help me to earn your mercy. I am too weak if left alone to reach your love. Strengthen me to withstand still in your direction amids the buzzes of syaithan and nafs.
     

Jumat, 30 Desember 2011

What !!!!. Hotel Bule di depan Mesjid Raya ???.. So What???

Beberapa hari yang lalu, seorang teman di facebook men-share satu liputan dari sebuah media massa tentang diloloskan AMDAL sebuah pembangunan kompleks hotel dan mall. Kompleks baru ini akan dibangun diatas lokasi bekas Genta Plaza persis di sebelah tenggara Mesjid Raya Baiturahman. Diberitakan bahwa pembangunan kompleks yang mempunyai hotel dengan nama kebarat-baratan , Best Western Hotel, ini akan menelan investasi tak kurang dari 200 milyar rupiah dan akan dikelola secara syariah bahkan akan dibangun jembatan  penyeberangan langsung menhubungkan kompleks tersebut dengan mesjid raya. 

Posting-an share tersebut menggoda saya mengikuti perkembangan dan mendapatkan berbagai reaksi baik negatif dan positif. Namun apabila ditotal maka reaksi penolakan terhadap pembangunan hotel tersebut lebih banyak (as long as I perceive). Alasan penolakan pembangunan kompleks ini berkisar dari lokasi yang berpotensi menutupi dominasi mesjid di kawasan hingga kepada kekhawatiran hotel ini menjadi ajang maksiat yang sangat dianggap tidak pantas dilakukan di depan Mesjid Rakyat Baiturrahman - Kebanggaan Rakyat Aceh. Lagi, hari ini (30 Desember 2011) ada ajakan di-wall facebook saya untuk menentang pembangunan hotel tersebut yang mungkin akan menjual minuman keras.  Posting-an terakhir ini membuat saya merasa tergelitik untuk memberi opini akan hal yang mulai menghangat ini. 

Sepenuhnya saya memahami kekhawatiran terhadap pembangunan kompleks hotel dan mall ini akan menjadi ajang maksiat baru di Nanggroe Aceh Darussalam, terlebih-lebih berada di depan mesjid yang menjadi jantung hati Aceh. Kekhawatiran ini menjadi kian beralasan jika melihat perkembangan hotel atau fasilitas yang berhubungan dengan kepariwisataan di Aceh yang sangat tidak islami meskipun slogan wisata islami terus dikumandangkan. Taman atau tempat wisata yang dibangun ternyata lebih banyak dihuni oleh pasangan khalwat. Hotel berbintang juga mempunyai diskotik yang didalamnya kegiatan non-islami secara terang dilakukan. Bahkan restoran elit terutama yang menjadi langganan para ekspatriat juga menyediakan minuman keras secara gamblang. Ini menjadi aneh karena ia menjadi makin marak di sebuah daerah yang pemerintahnya telah mendeklarasikan ke seluruh dunia bahwa ini provinsi syariah bung !!!. 

Saya melihat kekhawatiran diatas merupakan salah satu bentuk dari frustasi dan ketidakpercayaan kita terhadap efektifitas pelaksanaan Syariah Islam di Aceh. Pemerintah mandul untuk menegakkan dan mengamalkan slogan yang dibuatnya sendiri. Di sisi lain, masyarakat lebih suka jadi tukang kritik atau speak-speak saja jika ada indikasi pelanggaran syariah dan lebih senang menangkap pelaku maksiat daripada mencegah mereka sebelum perbuatan maksiat itu terjadi. Alhasil sebenarnya kita sendiri tidak percaya diri bahwa kita bisa

Tidak ada yang salah dengan pembangunan hotel dan mall. Bahkan pembangunan ini akan menbawa manfaat positif seperti investasi, lapangan pekerjaan dan infrastruktur ekonomi dan kepariwisataan yang representatif. Hotel dan mall adalah benda mati. Ia laksana pisau yang bisa digunakan untuk menyakiti orang (tujuan buruk) atau memotong ranting yang menghalangi jalan (tujuan baik). Manfaat tidaknya pisau tersebut sangat tergantung oleh manusia pemakainya. Hotel dan mall pun , menurut sepengatahuan saya, berdasarkan kaidah usul fiqh digolongkan pada hukum mubah (boleh dilaksanakan).

Pembangunan hotel dan mall di depan mesjid raya ini tentunya ditujukan lebih pada menarik jumlah pengunjung ke Aceh, khususnya Banda Aceh, lebih banyak. Turis kaya tidak akan ragu lagi akan kualitas akomodasi yang ditempati selama kunjungan wisatanya. Sebagai contoh, sebuah insider information mengatakan bahwa Abdullah Gul, Presiden Turki, urung ke Aceh April yang lalu untuk salah satunya disebabkan tidak ada hotel yang "representatif' di Banda Aceh. 

Sebagai daerah syariah, kita tentunya menginginkan kesan pendatang selama di Aceh adalah sebagaimana kesan positif seorang pengembara akan kedisiplinan dan kejujuran muslim di Madinah karena melihat para pedagang dan penduduk lainnya bergegas ke mesjid setelah azan berkumandang dengan meninggalkan dagangannya tanpa takut kecurian atau kehilangan. Atau dengan terperangahnya seorang tabib dari Mesir karena selama 6 bulan berada di Madinah tidak menemukan warga sakit parah akibat perilaku sehat dan bersih a la nabi yang dipraktekkan penduduk kota Madinah. Sejatinya, hal seperti inilah yang seharusnya kita terapkan dengan konsep wisata islami. Syiar bahwa Islam adalah rahmattan lil alamin. Muslim Aceh mempunyai perilaku mulia ditengah anugerah kelimpahan budaya dan keindahan alamnya.   

Sudahkah selevel itukah kualitas penduduk kita? Apakah kita telah melaksanakan cara hidup Islami yang diinspirasikan oleh Rasulullah. Apakah halal dan haram sudah ditegakkan secara tegas dan bijaksana? Pertanyaan ini lah yang sebenarnya yang harus kita jawab, bukan menyalahkan pembangunan sebuah benda mati yang bernama hotel atau mall. 

Menurut hemat saya, seharusnya yang perlu kita lakukan secara jamaah adalah bagaimana kita, ban sigoem  Aceh, percaya diri, mempunyai konsep diri Muslim sejati dan istiqamah menjaga syariah secara kaffah dalam arti sebenar-benarnya. Pemimpin, Gubernur atau walikota, dan penegak hukum perlu maju kedepan untuk memberikan teladan bahwa setiap pelanggaran syariah adalah musuh Aceh (berhubung pilkada makin dekat, so pilih pemimpin yang honestly care tentang masalah ini).  Kita pun sebagai rakyat juga harus melakukan pengawasan serta bertindak bijaksana terhadap pelanggaran syariah. Lebih dari itu, hal stategis yang mutlak dilakukan adalah pengkondisian rakyat Aceh melalui pendidikan dan teladan sehingga rakyak Aceh dapat berperilaku sebagaiman penduduk Madinah pada masa Rasulullah.  Apabila semua ini bisa dipenuhi, jembatan penyeberangan yang dibangun antara Mall dan Mesjid niscaya akan menjadi jembatan syurga dimana influx jamaah Kompleks Mall dan Hotel ke Mesjid Raya Baiturrahman akan terus bertambah. Wallahua'lam bisshawab.